by Dudi Akasyah
Saya bersama pemangku kebijakan sekolah berangkat ke Pelabuhan Merak
mendampingi Taruna/i praktik di kapal. Perjalanan dari Kelapa Gading menuju ke
Pelabuhan Merak.
Di sana, sudah menunggu kapal fery yang siap mengantar ke Pelabuhan Bakauheni,
Lampung. Di perjalanan saya diperkenalkan banyak hal tentang perkapalan.
Dimulai dengan kunjungan ke bagian bawah, yaitu ruang mesin kapal. Sebelum
memasuki ruangan itu telinga harus ditutup untuk melindungi pendengaran dari
suara mesin kapal yang cukup keras/bising. Dapat dimaklumi, suara keras mesin
kapal, seimbang dengan kapal yang didorongnya pun bentuknya sangat besar.
Saya mendengarkan penjelasan meski suaranya kadang-kadang lenyap dimakan
suara mesin. Para Taruna/i tekun mendengarkan setiap petunjuk petugas kapal
yang memperkenalkan beberapa bagian mesin.
Saya berpikir bagaimana petugas (Kepala Mesin dan Kru) dapat menjalankan
tugas tersebut, padahal suara deru mesin memekakan telinga, mungkin karena
terbiasa mereka tak merasakan apa-apa.
Mesin merupakan pusat dari berjalannya kapal. Petugas harus disiplin dan
selalu standby. Agar terjaga stamina mereka mengerjakan tugas secara
bergantian.
Setelah beberapa lama di bawah (ruang mesin). Saya menuju bagian atas
kapal. Di sana bertemu dengan petugas kemudi dan nakhoda (kapten) kapal. Tak
sembarang orang diperbolehkan masuk ke bagian mesin atau ruang kemudi, kecuali
kami dan para taruna pelayaran yang telah memiliki izin.
Bagian atas kapal (haluan) merupakan pusat kendali kapal. Di sana kita
akan menjumpai peta, petunjuk, tempat pengamatan, dan perangkat lain berkaitan
nautika.
Di lautan, kita melihat kapal lain seolah-olah diam, padahal mereka
sebenarnya bergerak. Untuk membedakan apakah kapal itu bergerak atau diam
adalah lihat buih di belakang kapal, jika kapal itu berbuih maka berarti kapal
itu sedang berjalan.
Kapal pun kemudian berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Para murid tetap fokus
dalam pengamatan. Beberapa menit kemudian kapal siap berangkat kembali ke
Pelabuhan Merak. Saya lihat ada atraksi dari anak-anak nelayan, mungkin maksud
mereka sebagai hiburan bagi para penumpang, kemudian agar penumpang memberi
hadiah uang receh kepada mereka, yakni mereka meloncat dari kapal meluncur ke
laut, byuuur. Ada sekitar 20-an orang yang atraksi, mereka bergantian meluncur
dari kapal. Kemudian beberapa penumpang melemparkan uang yang disambut oleh
anal nelayan. Ada yang sambil menyelam ada juga yang mengandalkan kecepatan
berenang.
Kapal pun perlahan
berangkat meninggalkan dermaga. Tampak tambang pengikat kapal yang ukurannya
besar mulai di lepas. Kapal pun bergerak menuju Pelabuhan Merak. Tampak
pulau-pulau indah di depan mata, pulau kecil tak berpenghuni, tampak masih
alami, dan seolah-olah mengajak kita untuk melestarikan alam yang permai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar