Sabtu, 19 April 2014

Belajar di Laut, SMK Pelayaran Jakarta Raya


by Dudi Akasyah

Saya bersama pemangku kebijakan sekolah berangkat ke Pelabuhan Merak mendampingi Taruna/i praktik di kapal. Perjalanan dari Kelapa Gading menuju ke Pelabuhan Merak.
Di sana, sudah menunggu kapal fery yang siap mengantar ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Di perjalanan saya diperkenalkan banyak hal tentang perkapalan.
Dimulai dengan kunjungan ke bagian bawah, yaitu ruang mesin kapal. Sebelum memasuki ruangan itu telinga harus ditutup untuk melindungi pendengaran dari suara mesin kapal yang cukup keras/bising. Dapat dimaklumi, suara keras mesin kapal, seimbang dengan kapal yang didorongnya pun bentuknya sangat besar.
Saya mendengarkan penjelasan meski suaranya kadang-kadang lenyap dimakan suara mesin. Para Taruna/i tekun mendengarkan setiap petunjuk petugas kapal yang memperkenalkan beberapa bagian mesin.
Saya berpikir bagaimana petugas (Kepala Mesin dan Kru) dapat menjalankan tugas tersebut, padahal suara deru mesin memekakan telinga, mungkin karena terbiasa mereka tak merasakan apa-apa.
Mesin merupakan pusat dari berjalannya kapal. Petugas harus disiplin dan selalu standby. Agar terjaga stamina mereka mengerjakan tugas secara bergantian.
Setelah beberapa lama di bawah (ruang mesin). Saya menuju bagian atas kapal. Di sana bertemu dengan petugas kemudi dan nakhoda (kapten) kapal. Tak sembarang orang diperbolehkan masuk ke bagian mesin atau ruang kemudi, kecuali kami dan para taruna pelayaran yang telah memiliki izin.
Bagian atas kapal (haluan) merupakan pusat kendali kapal. Di sana kita akan menjumpai peta, petunjuk, tempat pengamatan, dan perangkat lain berkaitan nautika.
Di lautan, kita melihat kapal lain seolah-olah diam, padahal mereka sebenarnya bergerak. Untuk membedakan apakah kapal itu bergerak atau diam adalah lihat buih di belakang kapal, jika kapal itu berbuih maka berarti kapal itu sedang berjalan.
Kapal pun kemudian berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Para murid tetap fokus dalam pengamatan. Beberapa menit kemudian kapal siap berangkat kembali ke Pelabuhan Merak. Saya lihat ada atraksi dari anak-anak nelayan, mungkin maksud mereka sebagai hiburan bagi para penumpang, kemudian agar penumpang memberi hadiah uang receh kepada mereka, yakni mereka meloncat dari kapal meluncur ke laut, byuuur. Ada sekitar 20-an orang yang atraksi, mereka bergantian meluncur dari kapal. Kemudian beberapa penumpang melemparkan uang yang disambut oleh anal nelayan. Ada yang sambil menyelam ada juga yang mengandalkan kecepatan berenang.
Kapal pun perlahan berangkat meninggalkan dermaga. Tampak tambang pengikat kapal yang ukurannya besar mulai di lepas. Kapal pun bergerak menuju Pelabuhan Merak. Tampak pulau-pulau indah di depan mata, pulau kecil tak berpenghuni, tampak masih alami, dan seolah-olah mengajak kita untuk melestarikan alam yang permai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar