Pengajian malam Jumat di SMK Pelayaran Jakarta Raya menyelenggarakan acara sederhana, yaitu Santunan untuk Yatim Piatu dan Penyerahan bantuan Kitab Suci Al Qur'an untuk Mushola Al-Bahri Yayasan Hang Tuah Pusat
MURID BERPRESTASI
Jumat, 23 Mei 2014
Sabtu, 19 April 2014
Belajar di Laut, SMK Pelayaran Jakarta Raya
by Dudi Akasyah
Saya bersama pemangku kebijakan sekolah berangkat ke Pelabuhan Merak
mendampingi Taruna/i praktik di kapal. Perjalanan dari Kelapa Gading menuju ke
Pelabuhan Merak.
Di sana, sudah menunggu kapal fery yang siap mengantar ke Pelabuhan Bakauheni,
Lampung. Di perjalanan saya diperkenalkan banyak hal tentang perkapalan.
Dimulai dengan kunjungan ke bagian bawah, yaitu ruang mesin kapal. Sebelum
memasuki ruangan itu telinga harus ditutup untuk melindungi pendengaran dari
suara mesin kapal yang cukup keras/bising. Dapat dimaklumi, suara keras mesin
kapal, seimbang dengan kapal yang didorongnya pun bentuknya sangat besar.
Saya mendengarkan penjelasan meski suaranya kadang-kadang lenyap dimakan
suara mesin. Para Taruna/i tekun mendengarkan setiap petunjuk petugas kapal
yang memperkenalkan beberapa bagian mesin.
Saya berpikir bagaimana petugas (Kepala Mesin dan Kru) dapat menjalankan
tugas tersebut, padahal suara deru mesin memekakan telinga, mungkin karena
terbiasa mereka tak merasakan apa-apa.
Mesin merupakan pusat dari berjalannya kapal. Petugas harus disiplin dan
selalu standby. Agar terjaga stamina mereka mengerjakan tugas secara
bergantian.
Setelah beberapa lama di bawah (ruang mesin). Saya menuju bagian atas
kapal. Di sana bertemu dengan petugas kemudi dan nakhoda (kapten) kapal. Tak
sembarang orang diperbolehkan masuk ke bagian mesin atau ruang kemudi, kecuali
kami dan para taruna pelayaran yang telah memiliki izin.
Bagian atas kapal (haluan) merupakan pusat kendali kapal. Di sana kita
akan menjumpai peta, petunjuk, tempat pengamatan, dan perangkat lain berkaitan
nautika.
Di lautan, kita melihat kapal lain seolah-olah diam, padahal mereka
sebenarnya bergerak. Untuk membedakan apakah kapal itu bergerak atau diam
adalah lihat buih di belakang kapal, jika kapal itu berbuih maka berarti kapal
itu sedang berjalan.
Kapal pun kemudian berlabuh di Pelabuhan Bakauheni. Para murid tetap fokus
dalam pengamatan. Beberapa menit kemudian kapal siap berangkat kembali ke
Pelabuhan Merak. Saya lihat ada atraksi dari anak-anak nelayan, mungkin maksud
mereka sebagai hiburan bagi para penumpang, kemudian agar penumpang memberi
hadiah uang receh kepada mereka, yakni mereka meloncat dari kapal meluncur ke
laut, byuuur. Ada sekitar 20-an orang yang atraksi, mereka bergantian meluncur
dari kapal. Kemudian beberapa penumpang melemparkan uang yang disambut oleh
anal nelayan. Ada yang sambil menyelam ada juga yang mengandalkan kecepatan
berenang.
Kapal pun perlahan
berangkat meninggalkan dermaga. Tampak tambang pengikat kapal yang ukurannya
besar mulai di lepas. Kapal pun bergerak menuju Pelabuhan Merak. Tampak
pulau-pulau indah di depan mata, pulau kecil tak berpenghuni, tampak masih
alami, dan seolah-olah mengajak kita untuk melestarikan alam yang permai
Selasa, 15 April 2014
Dakwah di Masjid Al-Bahri SMK Pelayaran Jakarta Raya
Masjid Al-Bahri SMK Pelayaran Jakarta Raya Yayasan Hang Tuah
Masjid al-Bahri sangat cocok untuk
ibadah, ittikaf, dan munajat. Saat masuk ke ruangan terasa sejuk, sebab
dilengkapi dengan AC, tetapi yang lebih penting adalah sejuknya hati.
Di Masjid Al-Bahri setiap Kamis malam
diadakan pengajian rutin oleh Ustadz Dudi Akasyah. Acara dimulai jam 18.00 WIB
s.d. Jam 19.30 WIB.
Acara:
-Shalat Magrib Berjamaah
-Mengirim Hadiah untuk Orang Tua
-Membaca Al-Qur'an
-Tausiyah
-Muhasabah
-Shalat Isya Berjamaah
-Selesai
Pada Rabu dan Kamis diadakan belajar di
Masjid untuk Pelajaran Agama Islam.
Hal ini dimaksudkan agar Taruna/i selalu
dekat dengan masjid, disiplin shalat, serta menghayati berkahnya ilmu.
Masjid Al-Bahri letaknya sangat strategis,
yakni di gerbang masuk area sekolah, sehingga siapa saja yang datang ke sekolah
di lingkungan Yayasan Hang Tuah maka pengunjung akan bertemu pertama kali
dengan Mushola Al-Bahri. Hal itu bisa dianalogikan, sebagai ucapan selamat
datang bagi Para Muslim dan agar tercipta suasana pendidikan yang berkah.
Para siswa semangat saat shalat di
Al-Bahri sebab Masjidnya sangat bagus. Ke depannya, perlu lebih kreatif lagi di
dalam memakmurkan masjid.
Pada 17 Desember 2013, Mushola Al-Bahri
diresmikan oleh Bapak KASAL Laksamana Dr Marsetio.
Mushola Al-Bahri desainnya minimalis. Di
dalam suasananya sejuk, kualitas AC sangat baik sehingga membuat nyaman orang
yang shalat, dzikir, dan ittikaf. Suasananya resik. Ada beberapa kaligrafi di
tiap sisinya berwarna kuning keemasan, serta lampu hias bernuansa emas,
kristal, berkerlap kerlip.
Bapak Dudi Akasyah, Pengajar,
menyampaikan kepada murid-muridnya bahwa ciptakan tempat ibadah itu senyaman
mungkin untuk mendukung ibadah kita. Tempat ibadah yang asal-asalan akan
membuat ibadah kita asal-asalan. Tempat ibadah yang nyaman, bersih, indah, dan
resik akan membuat kita betah berlama-lama berkomunikasi dengan Allah Taala.
Hal ini berlaku di masjid maupun di rumah yang di dalamnya ada tempat ibadah.
Survey menunjukkan bahwa tempat shalat yang nyaman dapat meningkatkan
kuantitas dan kualitas shalat dari para jamaah. Terlihat banyak siswa/i yang
menyempatkan shalat di Al-Bahri. Semoga masjid tambah makmur dan tambah
manfaat. Benar yang disampaikan Nabi bahwa ciptakan suasana shalat senyaman
mungkin, beliau menganjurkan agar saat mau shalat kita memakai wangi-wangian,
baju yang bagus, dan tempat shalat yang suci (bersih, nyaman, asri, dan membuat
betah). Happy shalat dan Happy taklim :) (DA)
Selasa, 05 November 2013
Pelantikan 2013
Innagurasi Pelantikan SMK Pelayaran Jaya Raya Tahun 2013
Setelah menghadiri pelantikan Taruna dan Taruni SMK
Pelayaran Tahun 2013.
Kekuatan fisik yang
dimiliki perlu disyukuri, yakni dengan cara menggunakan kekuatan fisik untuk
menuntut ilmu dan berbuat baik.
Mencintai ilmu akan menambah wawasan dan cara pandang. Manusia yang besar bermula dari wawasan yang luas, kemudian dilanjutkan dengan aplikasi di lapangan yang disesuaikan dengan visi dan misi hidupnya selama ini.
Mencintai ilmu akan menambah wawasan dan cara pandang. Manusia yang besar bermula dari wawasan yang luas, kemudian dilanjutkan dengan aplikasi di lapangan yang disesuaikan dengan visi dan misi hidupnya selama ini.
Minggu, 03 November 2013
Kiat Jitu Menjadi Murid Juara
Oleh Dudi Akasyah, SAg, MSi.
Allah akan meninggikan derajat bagi orang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadalah, 58:11)
Allah akan meninggikan derajat bagi orang beriman dan berilmu (QS. Al-Mujadalah, 58:11)
Ilmu
menempati kedudukan yang tinggi di dalam kehidupan manusia. Semua orang
menginginkan ilmu. Ada orang yang berhasil di dalam menuntut ilmu dan ada juga
mereka yang tidak berhasil di dalam menuntut ilmu.
Agar
berhasil di dalam menuntut ilmu maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai
berikut: [1] Kebulatan niat [2] Kepayahan [3] Memuliakan guru [4] Hindari
bermewah-mewahan [5] Membutuhkan waktu yang lama [6] Fokus dan sungguh-sungguh
[7] Ikhlas [8] Praktikan ilmu yang telah diperoleh [9] Rendah hati kepada siapa
pun.
1.
Kebulatan niat
Sebelum
menuntut ilmu, terlebih dahulu murid harus membulatkan niat. Kebulatan tekad
akan menjadikan ia mampu menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran
belajar. Bulatnya tekad juga dapat meringankan perjalanan menuntut ilmu. Agar
tekad kuat muncul maka hendaknya seorang murid: (a) Hendaknya murid melihat
banyak orang se-usianya yang tidak mampu menuntut ilmu (2) hendaknya murid
melihat orang yang telah berhasil di dalam ilmunya (3) Seorang murid perlu
mengetahui manfaat ilmu yang sedang digelutinya. Melalui cara di atas maka akan
tumbuhlah kebulatan niat untuk menuntut ilmu.
2.
Kepayahan
Kualitas
ilmu ditentukan oleh seberapa tinggi kepayahan yang dialami murid selama ia
menuntut ilmu. Semakin tinggi tingkat kepayahannya maka semakin tinggi pula
ilmu yang akan dia peroleh. Hal ini member pelajaran kepada kita bahwa
kepayahan di dalam menuntut ilmu jangan membuat kita putus asa sebab Allah akan
mengaruniakan ilmu yang tinggi di balik kepayahan. Sebagai contoh: murid
menghadapi masalah kekurangan biaya, kurang makan, baju lusuh, sakit, dan
sebagainya. Kepayahan-kepayahan seperti itu merupakan ujian dari Allah untuk
mengangkat derajat murid kepada derajat keilmuan yang tinggi.
3.
Memuliakan guru (Takzim)
Di
dalam menuntut ilmu, guru merupakan tokoh utama bagi para murid. Apa yang
disampaikan guru maka semuanya bertuah. Jika seorang murid berbakti kepada guru
maka dapat dipastikan murid tersebut kelak akan menjadi pelajar yang berhasil.
Sebaliknya apabila ada murid yang tidak hormat kepada gurunya maka kelak murid
tersebut tidak akan memperoleh apa-apa selama menuntut ilmu.
Kita
mendengar bahwa para ulama jaman dulu dimana mereka berhasil menjadi para ulama
yang terkemuka, karya-karya mereka banyak, penemuan mereka bernilai tinggi,
cerdas, dan mampu melahirkan ilmu-ilmu yang sangat bermanfaat, baik untuk
masanya maupun masa selanjutnya. Ternyata setelah ditelusuri rahasia di balik
kecerdasan beliau maka ditemukan bahwa kuncinya: memuliakan guru (takzim).
4.
Hindari bermewah-mewahan
Ilmu
tidak akan datang kepada murid yang manja, ingin disebut dirinya orang kaya,
ingin yang enak-enaknya saja, atau gengsi untuk menyapu, mencuci baju, dan
sebagainya. Ilmu akan dating kepada murid yang tampil sederhana, apa-adanya,
dan ulet di dalam belajar. Semua ilmu yang disampaikan guru disimak dengan
sungguh-sungguh. Ingat! Penilaian guru tidak bergantung kepada kecerdasan murid
namun bergantung kepada keuletan dan kesederhanaan murid di dalam menuntut
ilmu.
5.
Membutuhkan waktu yang lama
Untuk
memiliki suatu ilmu maka dibutuhkan waktu yang lama (tuluz-zaman). Sehebat apapun teknologi buatan manusia maka tidak
akan mampu mempersingkat penguasaan suatu ilmu. Seorang murid harus sabar dan
tekun selama beberapa tahun di dalam menyerap ilmu yang diberikan guru. Semakin
lama suatu ilmu ditekuni maka akan semakin tinggi dan semakin dalam ilmu yang
akan kita miliki.
Oleh
sebab itu, murid jangan ingin cepat-cepat atau tergesa-gesa untuk menyelesaikan
suatu ilmu. Tempuhlah waktu yang normal agar ilmu dapat dikuasai secara
maksimal.
6.
Fokus dan sungguh-sungguh
Ketika
guru menyampaikan suatu ilmu maka simak dengan sungguh-sungguh. Jangan
mengatakan: “Saya tidak membutuhkan ilmu itu.” Menyimak ilmu membuat pikiran
kita akan berjalan. Seorang guru tidak menilai pintarnya seorang murid namun
lebih melihat apakah murid itu focus dan sungguh-sungguh di dalam belajar.
Suatu ilmu yang awalnya dipahami namun jika terus dipelajari maka ilmu itu akan
dia kuasai.
7.
Ikhlas
Saat
menuntut ilmu hendaknya murid membersihkan niat. Seyogyanya ia tidak memikirkan
berapa banyak kekayaan dan jabatan yang akan dia miliki setelahnya ia menguasai
suatu ilmu. Ilmu tidak dapat diukur dengan materi. Siapa saja yang mengukur
ilmu dengan materi maka sama dengan mengukur yang tinggi dengan yang rendah,
maka jangan mengukur seperti itu.
Hendaknya
murid menimba ilmu dengan niat menjalankan perintah Allah dan menjalankan
syariat Islam yang mewajibkan seluruh muslim untuk mencari ilmu.
Ilmu
berfungsi sebagai sarana mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Seseorang yang
memiliki ilmu dan iman maka ia akan memperoleh iman yang kuat, derajatnya
tinggi, dan memiliki kecerdasan di dalam member manfaat kepada masyarakat.
8.
Praktikan ilmu yang telah diperoleh
Seorang
murid hendaknya mengamalkan ilmu yang telah dimiliki. Mengamalkan ilmu
mempunyai dua arti: pertama, mengamalkan
berarti mengerjakan apa yang dia tahu. Contoh: Seorang murid telah mengetahui
ilmu tajwid maka hendaknya dia saat membaca Al-Qur’an menggunakan tajwid.
Contoh lain: Seorang murid telah mempelajari ilmu sedekah maka hendaknya murid
tersebut mengeluarkan sedekah. Kedua, mengamalkan bermakna menyampaikan atau
mengajarkan kepada orang lain, yakni emngajari orang yang belum tahu menjadi
tahu.
9.
Rendah hati kepada siapa pun
Murid
hendaknya ingat kepada pepatah: “Padi yang merunduk adalah padi yang berisi.”
Peribahasa lainnya: “Tong kosong nyaring bunyinya.” Kedua peribahasa tersebut
menyampaikan tentang sikap orang yang berilmu dan sikap orang yang tak berilmu.
Orang
yang menuntut ilmu harus menjauhkan diri dari sifat sombong. Orang yang berilmu
harus hati-hati di dalam menilai orang lain. Ia tidak akan gegabah merendahkan
seseorang. Ilmu selalu mengajarkan keuntungan rendah hati dan kerugian sombong.
Janganlah
kita berkata-kata dengan tujuan agar kita dipandang sebagai orang berilmu.
Rendah-hatilah sebab kerendahan hati menunjukan bahwa ia telah memiliki ilmu,
kerendahan hati akan mengantarkan seseorang ke derajat yang tinggi, sebagaimana
seekor burung yang terbang dari bumi menuju langit.
Ilmu
dan Iman
Ilmu
pengetahuan yang dimiliki seseorang akan menebarkan banyak manfaat apabila
orang tersebut memiliki iman yang kuat. Melalui bimbingan iman dan Islam maka
ilmu yang kita miliki akan semakin berkembang, semakin cerdas, dan jangkauan
manfaatnya akan semakin luas.
Penutup
Ilmu
berada di tempat yang tinggi. Siapa saja orangnya yang memiliki ilmu maka ia
akan memperoleh kedudukan yang tinggi. Siapa saja yang sedang menuntut ilmu
maka ia memperoleh banyak pahala dan keistimewaan dari Allah SWT. Siapapun
orangnya menginginkan ilmu, namun hanya sedikit orang yang sabar di dalam
menuntut ilmu sehingga perjalanan menuntut ilmu menjadi terhalang. Semoga catatan
ini bermanfaat bagi para penuntut ilmu.
ý
Dudi Akasyah Ihsan
MAJLISUL ILMI
“SAKINAH”
|
Jakarta, SMK
Pelayaran
Rabu, 05 Desember 2012 M / 18 Muharram 1434 H
Jam 12.15 WIB
Ilmu dan Keutamaannya
Dudi Akasyah
Ilmu itu mulia dan akan memuliakan orang yang berada di sekelilingnya.
Para malaikat datang, berkeliling, dan memayungkan sayapnya untuk majlis
ilmu.
Mencerdaskan manusia itu merupakan ibadah yang sangat mulia. Itulah
essensi bagi siapa saja orangnya yang mau meluangkan waktunya untuk
mengamalkan ilmu.
Why not, kita dapat memberi kepada sesama, sebab kita mempunyai ilmu.
kita dapat memberi manfaat memberi ilmu.
Untuk para murid, keagungan ilmu akan diperoleh dengan cara kita
mengagungkan ilmu, para guru, serta tekun, ditambah niat semata-mata
menjalankan perintah Allah (ikhlas).
Langganan:
Komentar (Atom)













